M.K. Berpikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200) Tanggal : 30 Januari 2009 PERAN PENYULUHAN DALAM PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN PEDESAAN Disusun oleh : Gian Hendra / I34070099 Dosen : Ekawati S. Wahyuni Pudji Muljono Martuah Sihaloho Asisten dosen : Mahmudi Siwi, S.P. Rizal Razak, S.P. DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 ABSTRAK Gian Hendra, Peran Penyuluhan Dalam Pembangunan Sektor Pertanian Desa. Banyak masyarakat Indonesia yang masih bermukim di daerah pedesaan, pedesaan identik dengan sektor pertanian, sehingga mata pencaharian utama masyarakat desa adalah menjadi petani. Dalam perkembangan zaman, pertanian di Indonesia saat ini mengalami masa-masa sulit. Untuk itu dibutuhkan pembangunan pada sektor pertanian oleh pemerintah. Tapi masalah pertanian di Indonesia sangat pelik, membuat pemerintah harus benar-benar memperhatikan akan pembangunan pada sektor pertanian. Masalah itu meliputi dari kepemlikan lahan, biaya produksi, produktivitas lahan, hingga sarana dan prasarana yang masih belum mampu memenuhi kebutuhan petani. Pembangunan pertanian adalah bagaimana cara memajukan sektor pertanian. Pembangunan pertanian meliputi : (1) meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, (2) meningkatkan perluasan tenaga kerja, (3) meningkatkan daya saing hasil pertanian, (4) memelihara kemampuan swasembada pangan, (5) meningkatkan kemampuan petani dalam menguasai dan menerapkan teknologi, (6) meningkatkan kelembagaan pertanian dalam mengembangkan agribisnis dan agroindustri, dan (7) meningkatkan kemandirian petani. Penyuluh, memiliki peran dalam pembangunan pada sektor pertanian. Peran tersebut berupa Pengisi kehampaan pedesaan, Penyebar hasil-hasil penelitian, Pelatih pengambilan keputusan, Rekan pemberi semangat, Pendorong peningkatan produksi suatu komoditas, Pelayan pemerintah. Untuk itu pemerintah bekerjasama dengan penyuluh supaya pembangunan pada sektor pertanian berjalan. Sehingga timbul istilah penyuluhan pertanian yang berarti kegiatan menyebarluaskan teknologi dari suatu institusi melalui pendidikan kepada petani bertujuan untuk memperbaiki tingkat kehidupan keluarga desa, mengangkat kesejahteraan masyarakat pedesaan serta meingkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dalam pembangunan sektor pertanian ada faktor-faktor mempengaruhi pembangunan tersebut sehingga bisa berjalan. Faktor yang mempengaruhi ada syarat pokok dan syarat pelancar. Sehingga pembangunan berjalan, dan tidak behenti di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pedesaan diindentikan dengan istilah pertanian. Mosher (1974), Bertrand (1958), dalam Rahardjo menyatakan bahwa pembangunan pedesaan merupakan pembangunan usaha tani atau pembangunan pertanian. Hampir enam puluh lima pesen dari total penduduk Indonesia, yaitu sebanyak seratus empat puluh tiga juta jiwa bermukim di daerah pedesaan, yang mempunyai mata pencaharian utama pada sektor pertanian. Dalam perkembangan zaman, pertanian di Indonesia saat ini mengalami masa-masa sulit. Negara yang dengan kekayaan alamnya harus mengimpor bahan pangan dari negara lain. Dan banyak yang mengaggap petani adalah pekerjaan kelas bawah. Untuk itu diperlukan suatu cara agar pertanian di Indonesia tidak semakin terpuruk dan tertinggal dari negara lain. Maka dari itu dibutuhkan penyuluh sebagai motivator untuk peningkatan kualitas petani dalam membangun pertanian Indonesia. Menurut Sudaryanto (1999), peyuluhan pertanian adalah juga suatu sistem pendidikan non-formal bagi masyarakat tani yang menggunakan falsafah: “menolong petani agar mereka mampu menolong dirinya sendiri”. Sedangkan A.T Mosher (1978) dalam bukunya yang berjudul An Introduction to Agricultural Extension menyatakan bahwa : “proses penyuluhan adalah bekerja dengan masyarakat pedesaan melalui pendidikan luar sekolah, sejalan dengan minat dan kebutuhan mereka yang erat hubungannya untuk memperoleh penghidupan, memperbaiki tingkat kehidupan keluarga pedesaan secara fisik serta mengangkat kesejahteraan masyarakat pedesaan”. Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa penyuluhan adalah kegiatan menyebarluaskan teknologi dari suatu institusi melalui pendidikan kepada petani bertujuan untuk memperbaiki tingkat kehidupan keluarga desa, mengangkat kesejahteraan masyarakat pedesaan serta meingkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Disaat pertanian mengalami kemacetan, kondisi penyuluh di Indonesia tidak berbanding terbalik. Seharusnya penyuluh dan petani bekerja sama dengan baik, agar pembangunan pertanian dapat berjalan sesuai apa yang telah direncanakan pemerintah. Pembangunan pertanian yang berhasil dapat diartikan sebagai pertumbuhan sektor pertanian yang tinggi dan sekaligus terjadi perubahan masyarakat tani yang kurang baik menjadi yang lebih baik (Soekartawi, 1995). Tidak hanya itu, kerjasama yang baik dapat membangun sektor perekonomian desa tersebut yang akan berimbas pada kesejahteraan masyarakat desa. Mosher (1974), Bertrand (1958), dalam Rahardjo menyatakan bahwa pembangunan pedesaan merupakan pembangunan usaha tani atau pembangunan pertanian. Dalam cakupan yang lebih luas, hal ini dapat membangun kondisi negara yang sedang terpuruk. 1.2. Perumusan Masalah Tak bisa disangkal lagi pertanian di Indonesia saat ini sangat terpuruk, banyak faktor-faktor atau masalah yang mengakibatkan pertanian kita seperti ini. Dari peryataan di atas dapat ditarik benang merahnya bahwa permasalahan pertanian harus diselsaikan dengan segera, karena ini berpengaruh bagi hidup banyak orang dan negara. Dari permasalahan di atas, ada hal yang menarik untuk dikaji, yaitu : 1. Permasalahan pada sektor pertanian pedesaan? 2. Arti dan peran penyuluh dalam pembangunan pertanian pedesaan? 3. Apa saja faktor yang berpengaruh dalam pembangunan pertanian pedesaan? 1.3. Tujuan penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Mengetahui permasalahan pada sektor pertanian pedesaan dan menemukan solusinya. 2. Mengetahui faktor pembangunan pertanian.pedesaan 3. Mengetahui peran penyuluh dalam pembangunan pertanian pedesaan. 1.4. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian dari kajian ini: 1. Bagi Mahasiswa Akademik. Bagi mahasiswa yakni agar lebih memahami bahwa pertanian ialah salah satu keunggulan Indonesia yang sudah seharusnya dijaga. Selain itu, makalah ini diharapkan bisa menjadi pemicu bagi kaum akademik untuk lebih peduli dengan sektor pertanian di Indonesia. 2. Bagi Pemerintah dan Masyarakat Lokal. Bagi pemerintah dan masyarakat lokal yakni lebih menjaga sektor pertanian. Serta mampu memberikan masukan kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan akan pembangunan pada sektor pertanian. 3. Bagi Pembaca Awam dan Swasta. Bagi pembaca awam dan swasta makalah ini diharapkan dapat menggugah masyarakat dan pihak swasta agar lebih memperhatikan sektor pertanian. Selain itu, makalah ini juga diharapkan dapat membuat masyrakat luas dan pihak swasta lebih peduli dengan sektor pertanian. BAB II PEMBAHASAN 2.1. Permasalahan Pada Sektor Pertanian Pada zaman sekarang permasalahan pertanian semakin banyak, dari kepemilikan lahan, biaya produksi, harga jual produksi murah, dan lainnya. Masalah-masalah pada sektor pertanian bukan pada masalah modal dan keterampilan petaninya, penguasaan sumberdaya lahan juga mempengaruhi, seperti di tabel berikut: Tabel 1. Masalah, Kebutuhan, dan Potensi Kelompok Petani Kelompok petani Masalah Kebutuhan Potensi Penguasaan sumber daya terbatas Pemberdayaan Jumlahnya banyak Keterampilan kurang Bantuan modal usaha Punya kekuatan politik Modal kurang Kestabilan harga partisipasi Tingkat tinggi Sumber : Membagun Desa Partisipatif Soekartawi (1995) menyatakan bahwa pada era globalisasi, pembangunan pertanian perlu memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut: (1) pendekatan teknologi, (2) perubahan harga, (3) meningkatnya jumlah produsen, sehingga menyebabkan meningkatnya persaingan, (4) menurunnya harga, (5) menurunnya lahan pertanian, (6) meningkatnya kesadaran kesehatan berdasarkan penggunaan pestisida, (7) perubahan iklim, dan (8) pembiayaan usahatani yang lebih tinggi. Masalah utama pertanian ada empat, yaitu kehidupan petani, harga komoditi, produktivitas lahan, dan sektor sarana dan prasarana. A. Kehidupan Petani. masih banyak petani di Indonesia yang hanya dapat hidup di atas lahan pertanian yang semakin hari semakin menyempit, jumlah petani gurem bukannya berkurang tetapi semakin meningkat. Ini salah satu faktor mengapa tidak ada regenerasi petani, banyak anggapan bahwa pekrjaan menjadi petani tidak berprospek cerah. B. Harga Komoditi. Harga riil komoditas primer pertanian yang dihasilkan petani semakin hari semakin berkurang nilainya dibandingkan komoditas industri, biaya pendidikan, dan kesehatan yang mereka butuhkan. Demikian pula biaya angkutan, harga sarana produksi yang selalu meningkat. C. Produktivitas Lahan. Produktivitas lahan juga semakin memburuk, bahkan terjadi degradasi lingkungan hidup sebagai akibat penggunaan pupik kimia terus-menerus, tanpa henti. Kesemuanya berujung kepada rendahnya produktivitas, mutu kerja, dan daya saing sektor pertanian kita. D. Sektor Sarana dan Prasarana Pada sektor sarana dan prasarana pertanian yang ada belum cukup memadai kebutuhan petani. Ini mengakibatkan kurang maksimalnya hasil produksi pertanian kita. 2.2. Pembangunan Sektor pertanian dan Penyuluh Pembangunan pada sektor pertanian berarti menciptakan petani yang handal sehingga mampu mensejahterakan hidupnya dan negara. Rahardjo (1999) menyatakan pembangunan mempunyai arti sebagai perubahan yang disengaja atau direncanankan dengan tujuan untuk mengubah keadaan yang tidak dikehendaki ke arah yang dikehendaki. Pembangunan yang dilakukan di pedesaan tidak terlepas adanya hubungan dengan perkotaan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Redfield mengenai little tradition sebagai sebutan sebuah desa dan great tradition yang mewakili kota (Redfield, 1982). Pembangunan pertanian yang berhasil dapat diartikan sebagai pertumbuhan sektor pertanian yang tinggi dan sekaligus terjadi perubahan masyarakat tani yang kurang baik menjadi yang lebih baik (Soekartawi, 1995) perubahan itu diukur berdasarkan penyediaan lapangan pekerjaan, penyedia pangan, penyumbang devisa negara melalui ekspor, serta berkembangnya industri faktor produksi. Berikut adalah pengertian pembangunan pertanian berdsarkan permasalahan di atas: (1) meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, (2) meningkatkan perluasan tenaga kerja, (3) meningkatkan daya saing hasil pertanian, (4) memelihara kemampuan swasembada pangan, (5) meningkatkan kemampuan petani dalam menguasai dan menerapkan teknologi, (6) meningkatkan kelembagaan pertanian dalam mengembangkan agribisnis dan agroindustri, dan (7) meningkatkan kemandirian petani. Penyuluhan pertanian adalah suatu usaha atau upaya untuk mengubah perilaku petani dan keluarganya agar mereka mengetahui dan mempunyai kemauan, serta mampu memcahakan masalahnya sendiri dalam usaha atau kegiatan-kegiatan meningkatkan hasil usahanya dan tingkat kehidupannya (Kartasapoetra, 1991). “Partisipasi rakyat dalam pembangunan bukan hanya berarti pengerahan tenaga kerja rakyat secara sukarela, tetapi justru yang lebih penting adalah tergeraknya rakyat untuk mau memanfaatkan kesempatan-kesempatan memperbaiki kualitas hidup sendiri. Pembangunan selama empat pelita telah banyak membuka kesempatan itu, misalnya dengan tersedianya berbagai macam prasarana, sarana, dan kelembagaan untuk perbaikan bermacam aspek kehidupan. Untuk sektor pertanian misalnya, telah tersedia prasarana jalan, irigasi, teknologi maju dan pasar, sarana produksi seperti pupuk dan obat-obatan pemberantas hama penyakit, kelembagaan seperti perbankan untuk membantu permodalan, dan kelompok-kelompok tani yang siap dimanfaatkan sebagai wadah kerjasama antar petani. Apabila kesempatan-kesempatan itu tidak dimanfaatkan, maka kualitas hidup rakyat (petani) tidak akan berubah dan tujuan pengembangan pun tidak tercapai.” Karena itu dibutuhkan peran seorang penyuluh sebagai seorang yang dapat membantu petani. Pada dasarnya penyuluh dapat berperan sebagai Pengisi kehampaan pedesaan, Penyebar hasil-hasil penelitian, Pelatih pengambilan keputusan, Rekan pemberi semangat, Pendorong peningkatan produksi suatu komoditas, Pelayan pemerintah. Proses pertukaran pengetahuan dan perkenalan dalam konteks atau praktik apapun mengindikasikan keberadaan interaksi dan komunikasi. Konteks atau paraktik yang berkaitan dengan modal sosial adalah jaringan dan keuntungan kepemilikannya. Jaringan merupakan hubungan sosial yang membentuk dan dibentuk proses pertukaran pengetahuan dan perkenalan dalam Interaksi dan komunikasi. Peran penyuluh sangatlah penting untuk pembangunan pertanian. Tugas pokok penyuluhan pertanian adalah melakukan kegiatan penyuluhan pertanian untuk mengembangkan kemampuan petani-nelayan dalam menguasai, memanfaatkan, dan menerapkan teknologi baru sehingga mampu bertani lebih baik, berusaha tani lebih menguntungkan serta membina kehidupan berkeluarga yang lebih sejahtera (Badan Diklat Penyuluhan, 1989). Sedangkan peran penyuluhan menurut Hubeis dkk (1992) dalam Yumi (2002), menyebutkan peran penyuluhan adalah memberi kemampuan masyarakat melihat perasalahan, mendifusikan dan membimbing proses adopsi inovasi, mendampingi proses pemecahan masalah, menjadi mediator antara pembuat kebijakan pembangunan dan khalayak sasaran. Penyuluh dapat dibagi menjadi dua, yakni penyuluh yang langsung berhubungan dengan petani yang sifatnya dikenal oleh para petani di pedesaan (Penyuluh Pertanian Lapangan/PPL ataupun Penyuluh Pertanian Madya/PPM) dan peyuluh yang tidak langsung berhubugan dengan petani yang pada umumnya berstatus sebagai pegawai suatu instansi yang ada hubungannya dengan kegiatan pertanian (Petugas Dinas Pertanian, Pembangunan Masyarakat Desa, Koperasi, dsb) (Samsudin, 1977). 2.3. Faktor-Faktor Pembangunan Pertanian Pedesaan dan Penyuluhan Syarat pokok dalam pembangunan pertanian adalah semua komponen yang terdiri aspek fasilitas dan jasa yang harus atau mutlak tersedia bagi terlaksananya pembangunan pertanian. Syarat tersebut terdiri lima buah ruji beserta lingkarannya yang membentuk sebuah roda, di mana pertanian dapat bergerak maju. Sehingga tanpa salah satu diantara syarat tersebut, pembangunan pertanian tidak akan bergerak. Adapun lima syarat pokok pembangunan pertanian tersebut terdiri atas: 2.3.1. Teknologi yang senantiasa berubah. Teknologi dalam pertanian adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan pekerjaan petani dan menghasilkan output yang lebih baik. Hal ini berbeda dengan istilah otomatisasi yang berarti menggantikan suatu pekerjaan yang dilakukan manusia dengan mesin. Teknologi selalu dituntut adanya penelitian dan pengembangan pertanian yang menghasilkan inovasi teknologi pertanian. Inovasi teknologi tersebut sangat relatif, bisa merupakan hasil modifikasi dari teknologi yang dikembangkan petani, ditemukan petani dan peneliti lainnya. Tetapi dalam hal ini diperlukan biaya yang tidak sedikit. Hal inilah yang biasanya menjadi penghambat utama dalam pengadopsian teknologi pertanian di Indonesia. Untuk itu dibutuhkan bantuan pemerintah untuk memudahkan petani mengakses teknologi. Kesadaran petani akan pentingnya teknologi pun harus ditingkatkan. Dengan demikian teknologi dapat membantu petani secara maksimal. 2.3.2. Pasar bagi hasil-hasil usahatani. Peningkatan produksi pertanian dari usaha tani menghasilkan surplus. Konsuekensi dari adanya peningkatan produksi pertanian adalah meningkatnya kebutuhan petani akan pihak-pihak yang berperan dalam meningkatkan permintaan pasar dan sistim tataniaga. 2.3.3. Tersedianya sarana produksi pertanian. Dengan adanya temuan inovasi teknologi pertanian, diperlukan tempat yang memudahkan petani mengakses teknologi tersebut. Maka teknologi pertanian yang dibutuhkan mereka harus tersedia di tempat petani berdomisili atau setidaknya di tempat yang terjangkau oleh petani. Hal ini ditunjuk untuk menekan harga produksi agar tidak mahal. 2.3.4. Transportasi. Tanpa transportasi mustahil pembangunan dapat dilakukan. Karena transportasi ialah akses untuk memasarkan hasil pertanian dari desa ke masyarakat luas di Indonesia. 2.3.5. Perangsang produksi bagi petani. Petani menghendaki perbandingan harga yang menguntungkan, bagi hasil yang wajar, dan tersedianya barang dan jasa yang ingin dibeli oleh petani. Untuk itu pemerintah harus memberi rangsangan kepada petani. Selain rangsangan dari pemerintah, penyuluh seharusnya dapat mendorong petani untuk menjadi lebih baik lagi. Penyuluh yang baik ialah penyuluh yang dapat memompa semangat “anak asuh”nya untuk menjadi lebih baik. Selain ada syarat pokok ada juga syarat pelancar pembangunan pertanian, yang meliputi: (1) pendidikan pembangunan, (2) kredit produksi, (3) kegiatan bersama oleh petani, (4) perbaikan dan perluasanareal lahan pertanian, dan (5) perencanaan nasional pembangunan pertanian. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Pada zaman sekarang permasalahan pertanian semakin banyak, dari kepemilikan lahan, biaya produksi, harga jual produksi murah, dan lainnya. Tapi masalah utama pertanian ada empat, yaitu kehidupan petani, harga komoditi, produktivitas lahan, dan sektor sarana dan prasarana. Untuk itu perlu dipembangunan pada sektor pertanian. Pengertian pembangunan pertanian berdasarkan permasalahan di atas: (1) meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, (2) meningkatkan perluasan tenaga kerja, (3) meningkatkan daya saing hasil pertanian, (4) memelihara kemampuan swasembada pangan, (5) meningkatkan kemampuan petani dalam menguasai dan menerapkan teknologi, (6) meningkatkan kelembagaan pertanian dalam mengembangkan agribisnis dan agroindustri, dan (7) meningkatkan kemandirian petani. Pembangunan akan berjalan apabila terdapat 5 (lima) syarat pokok yitu, teknologi yang selalu berubah, pasar bagi hasil-hasil usaha tani, tersedianya saprotan secara lokal, perangsang produksi bagi petani, transportasi. Juga terdapat syarat pelancar, yaitu pendidikan pembangunan, kredit produksi, kegiatan bersama (kelompok) oleh petani, perbaikan dan perluasan areal lahan, perencanaan nasional pembangunan pertanian. Sedangkan penyuluh berperan sebagai Pengisi kehampaan pedesaan, Penyebar hasil-hasil penelitian, Pelatih pengambilan keputusan, Rekan pemberi semangat, Pendorong peningkatan produksi suatu komoditas, Pelayan pemerintah. SARAN 1. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kesejahteraan petani. 2. Petani sebaiknya meningkatkan kesadaran akan pembangunan, tidak hanya pasrah kepada keadaan. 3. Kepada masyarakat luas diharapkan membuka pandangan terhadap masa depan pertanian Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Adisasmita, Rahardjo. 2006. Membangun Desa Partisipatif. Edisi 1 Cetakan 1. Yogyakarta. Graha Ilmu. Badan Diklat Penyuluhan. 1989. Pedoman Tata Kerja dan Tata Hubungan Kerja Penyuluhan Pertanian. Jakarta. Hamirta, Dini. 2006. Modal Sosial Perempuan Sunda Sebagai Petani Gurem dalam Kemiskinan. Skripsi. Sarjana Fakultas Ekologi Manusia IPB. Kartasapoetra, A.G. 1991. Teknologi Peyuluhan Pertanian. Edisi 3 Cetakan 2. Jakarta: Bumi Aksara. Mosher, AT. 1978. An Introduction to Agricultural Extension. Agricultural Deveploment Council. Singapore University Press. Rahardjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Gadjah Mada University Press. Redfield, Robert. 1982. Masyarakat Petani dan Kebudayaan. CV Rajawali. Jakarta. Robbins, Stephen P. and Mary Coulter. 2005. Manajemen –Ed. 7–jilid 2, alih bahasa T. Hermaya; Penyunting bahasa Bambang Sarwiji. Jakarta: Indeks. Samsudin, S.U. 1977. Dasar-Dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian: Untuk SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas). Jakarta: Bina Cipta. Soekartawi. 1995. Pembangunan Pertanian. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Suswono. 2007. Petani-Nelayan Indonesia (Catatan Dakwah Dua Tahun di Parlemen). Yogyakarta. Bening Publisher. Yumi. 2002. Efektifitas Penyuluhan Partisipatif Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan. Tesis Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor Yustina, Ida & Adjat Sudrajat, ed. 2002. Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. hal. 31. Bogor: IPB press. hal. 31.